Kamis, 03 Juli 2014

ISOLASI MATERI GENETIK DNA PADA BUAH



ISOLASI MATERI GENETIK (DNA)

TUJUAN PRAKTIKUM
1.      Untuk mengetahui cara/metode yang benar untuk memisahkan (mengisolasi) DNA dari buah-buahan.
2.      Untuk mengetahui keefektifan deterjen dan buah yang dipakai untuk melakukan percobaan isolasi DNA.

TINJAUAN TEORITIS
            DNA (Deoxyribose Nucleid Acid) merupakan persenyawaan kimia yang paling penting pada makhluk hidup, yang membawa keterangan genetik dari sel khususnya atau dari makhluk dalam keseluruhannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Molekul DNA terdapat pada nukleus, mitokondria, plastida, dan sentriol. Molekul DNA pada nukleus memiliki bentuk sebagai benang lurus dan tidak bercabang, sedangkan DNA yang terletak pada mitokondria dan plastida berbentuk lingkaran (Suryo, 2012 : 59)
            DNA pada makhluk hidup dapat diisolasi secara sederhana. Pengisolasian DNA secara sederhana dapat dilakukan dengan memecahkan dinding sel, membran plasma, dan inti baik secara mekanik maupun kimiawi. Isolasi DNA merupakan suatu teknik yang digunakan untuk memperoleh DNA murni, yaitu tanpa protein dan RNA dari suatu sel dalam jaringan.
            Pemecahan dinding sel secara mekanik dapat dilakukan dengan pemblenderan atau penggerusan menggunakan mortar dan pistil. Sedangkan secara kimiawi dapat dilakukan dengan pemberian detergen. Penambahan sabun cair dan garam dapur adalah untuk melisiskan membran inti untuk mengeluarkan isi inti sel yang berisi DNA.
            DNA adalah master molecul (molekul utama) yang mengkode semua informasi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam setiap organisme (Jamilah, 2005). DNA ini tersusun atas tiga komponen utama yaitu gula deoksiribosa, basa nitrogen, dan fosfat yang tergabung membentuk nukleotida (Istanti, 1999). Molekul DNA ini terikat membentuk kromosom, dan ditemukan di nukleus, mitokondria, dan kloroplas. DNA yang menyusun kromosom ini merupakan nukleotida rangkap yang tersusun helix ganda (dobel helix), dimana basa nitrogen dan kedua benang polinukleotida saling berpasangan dalam pasangan yang tetap melalui ikatan hidrogen dan antara nukleotida yang satu dengan nukleotida yang lain dihubungkan dengan hubungan fosfat. DNA terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup dan disebut sebagai “cetak biru kehidupan” karena molekul ini berperan penting sebagai pembawa informasi hereditas yang menentukan struktur protein dan proses metabolisme lain (Jamilah, 2005).
            DNA dapat mengalami denaturasi dan renaturasi. Selain itu DNA juga bisa diisolasi. Zubaidah (2004) dan Jamilah (2005) menyatakan bahwa isolasi DNA dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan antara lain : preparasi ekstrak sel, pemurnian DNA dari ekstrak sel, dan presipitasi DNA. Meskipun isolasi DNA dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi pada setiap jenis atau bagian tanaman dapat memberikan hasil yang berbeda, hal ini karena adanya senyawa polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi tinggi yang dapat menghambat pemurnian DNA. Jika isolasi DNA dilakukan dengan sampel buah, maka kadar air pada masing-masing buah berbeda. 
Penambahan detergen dalam isolasi DNA dapat dilakukan karena detergen dapat menyebabkan rusaknya membran sel, melalui ikatan yang dibentuk melalui sisi hidrofobik detergen dengan protein dan lemak pada membran membentuk senyawa “lipid protein-deteren kompleks”. Senyawa tersebut dapat terbentuk karena protein dan lipid memiliki ujung hidrofilik, demikian juga dengan detergen, sehingga dapat membentuk suatu ikatan kimia (Mahmud, 2006).


ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan :
·         Beaker gelas atau gelas aqua
·         Pisau
·         Pengaduk
·         Penyaring (tissu/kapas)
·         Mesin blender
·         Spatula
·         Tabung reaksi dan rak tabung
·         Stopwatch

Bahan yang digunakan :
·         Buah tomat dan pepaya
·         Deterjen (Surf, Rinso) dan sabun BuKrim
·         Aquades
·         Garam dapur
·         Etanol 96%  dingin (etanol dan es batu)

PROSEDUR KERJA
1.      Melarutkan detergen (Surf, Rinso) dan sabun BuKrim ke dalam 60 ml aquades, diaduk pelan selama 15 menit.
2.      Ambil 100 gram daging buah ditambah 100 ml aquades dimasukkan ke dalam mesin blender, kemudian diblender selama 40 detik.
3.      Lalu campurkan 4 ml masing-masing larutan sabun dicampurkan dengan masing-masing 4 ml jus buah.
4.      Menambahkan 1 spatula garam dapur kemudian diaduk selama 10 menit sampai diperoleh campuran yang homogen.
5.      Menyaring campuran yang dihasilkan pada point sebelumnya sebanyak dua kali.
6.      6 ml hasil penyaringan pada point di atas dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan menambahkan 5 ml etanol 96% dingin.
7.      Mengamati proses timbulnya DNA, meliputi waktu yang diperlukan, warna, serta banyak sedikitnya DNA yang terbentuk.
8.      Catat hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan.
9.      Dokumentasikan kegiatan.










HASIL

No
BUAH
Perlakuan

Hasil
Pengamatan




Warna
Bentuk
Waktu
Jumlah


Surf
Putih
Benang-benang halus
Cepat
10 detik
+
1
1
TOMAT
BuKrim
Putih
Benang-benang halus
Cepat
10 detik
++
2


Rinso
Putih
Benang-benang halus
Cepat
23 detik
++++++++
++++++++
Banyak


Surf
Putih
Benang-benang halus
Lama
++
2
2
PEPAYA
BuKrim
Putih
Benang-benang halus
Cepat
14 detik
++++++
6


Rinso
Putih
Benang-benang halus
Agak lama
46 detik selama 1 menit
++++
4








GAMBAR OBSERVASI


 Gambar 1. Bahan-bahan yang digunakan



Gambar 2. Buah pepaya dan tomat yang telah dikupas





Gambar 3. Memblender pepaya




Gambar 4. Pepaya dan tomat yang telah di blender





Gambar 5. Mengaduk BuKrim, Surf, dan Rinso



Gambar 6. Mengaduk campuran jus buah dengan larutan detergen dan garam






Gambar 7. Menyaring campuran yang telah homogen




Gambar 8. Mengamati terbentuknya DNA 





Gambar 9. Pengisolasian DNA




PEMBAHASAN

            Isolasi DNA pada dasarnya dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam sumber DNA yang dapat diperoleh dari hewan maupun tumbuhan. Upaya untuk mengeluarkan DNA dari sel dilakukan dengan merusak dinding, membran sel dan juga membran inti. Cara yang digunakan untuk merusak membran-membran tersebut sangat beraneka ragam, misalnya dengan pemblenderan atau penggerusan dengan mortal dan pistil. Selain pengrusakan secara fisik, membran dan dinding sel dapat pula dirusak dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia. Perusakan dinding sel dan membran sel pada praktikum isolasi DNA kali ini dilakukan dengan cara pemblenderan selama 40 detik. DNA yang didapatkan dalam pengamatan kali ini adalah DNA yang berupa benang-benang halus sehigga hanya berupa kabut putih yang sangat lembut.
            Praktikum isolasi DNA dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh macam buah dan jenis detergen terhadap kualitas DNA yang dihasilkan dalam proses isolasi. Buah yang digunakan dalam proses isolasi DNA ini adalah buah pepaya dan tomat. Sedangkan jenis detergen yang dipakai adalah bubuk Surf dan Rinso, serta BuKrim. Sumber DNA yang berupa buah diblender selama 40 detik, lama pemblenderen dibatasi hanya 40 detik karena jika terlalu lama dikhawatirkan molekul DNA akan ikut hancur. Setelah diblender, ekstrak buah ditambahkan dengan masing-masing larutan detergen yang telah dilarutkan dengan aquades. Kemudian ditambahkan dengan garam dapur dan diaduk selama 10 menit untuk memperoleh campuran yang homogen. Setelah itu ekstrak buah disaring 2 kali. Hasil penyaringan dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan etanol. Penambahan garam dan penyaringan serta penambahan etanol bertujuan untuk memudahkan pemisahan benang-benang DNA dari larutan sehingga benang-benang DNA tersebut akan mudah diamati.
            Pengisolasian DNA menggunakan garam dapur dengan tujuan untuk melekatkan DNA. Hal ini dapat terjadi karena ion Na+ yang dikandung oleh garam mampu membentuk ikatan dengan kutub negatif pada ikatan fosfat DNA. Saat ion Na+ garam berikatan dengan fosfat, pada saat itulah DNA akan berkumpul. Sedangkan penambahan etanol pada permukaan larutan bertujuan untuk melakukan prepisitasi sehingga DNA yang telah terkumpul tadi mampu memisah dari larutan dan terbentuklah lapisan-lapisan yang dapat diidentifikasi unsur penyusunnya.
            Setelah dilakukan proses pengisolasian DNA, didapatkan data bahwa pada penggunaan buah tomat sebagai sumber DNA, DNA yang berhasil diisolasi paling banyak ditemukan pada filtrate yang berisi larutan Rinso. Sedangkan pada filtrate yang berisi larutan surf hanya sedikit jika dibandingkan filtrate yang berisi bukrim. Dan untuk waktu pembentukan DNA pada masing-masing perlakuan bervariasi. Untuk sumber DNA buah tomat, DNA paling cepat terbentuk pada larutan Surf. Waktu paling lama yang dibutuhkan untuk mengisolasi DNA adalah pada larutan detergen Rinso.
            Pada penggunaan sumber DNA buah pepaya, DNA didapatkan paling banyak pada larutan detergen BuKrim, sedangkan DNA paling sedikit ditemukan pada bubuk Surf. Waktu pembentukan DNA pada masing-masing larutan berbeda. Untuk larutan detergen BuKrim , waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk membentuk DNA sangat cepat, sedangkan pada larutan bubuk Rinso waktu yang dibutuhkan sedang jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengisolasi DNA pada bubuk Surf.
            Jika dilihat secara keseluruhan, semua sumber DNA mampu menghasilkan DNA dengan cukup baik. Untuk masing-masing sumber DNA, jenis detergen yang digunakan mempengaruhi banyaknya DNA yang dihasilkan dan waktu pembentukannya pun bervariasi. Bentuk DNA yang dihasilkan pada pengamatan kali ini adalah bentuk benang dengan warna secara umum adalah putih. Adanya hasil warna dan perbedaan lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan DNA dipengaruhi oleh beberapa faktor, selain karena masing-masing detergen dan sumber DNA memiliki kemampuan yng berbeda-beda, perbedaan waktu ini juga disebabkan oleh kekurang telitian praktikan dalam mengamati DNA yang terbentuk.

Laporan Praktikum Ekologi Hewan



LAPORAN PRAKTIKUM
JUDUL PERCOBAAN                   :
1.      Terapan Kisaran Toleransi dan Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Hewan.
2.      Habitat, Mikrohabitat dan Relung Ekologi.

TUJUAN :
1.      Mengetahui perubahan gerakan operculum Ikan mas (Cyprinus carpio) terhadap perubahan suhu air.
2.      Mengetahui respon tingkah laku Ikan mas (Cyprinus carpio) akibat perubahan suhu air.
3.      Mengidentifikasi ikan air tawar serta habitat dan mikrohabitatnya.
4.      Mengidentifikasi ketahanan hidup dalam perbedaan konsentrasi air.

TINJAUAN TEORITIS
            Ikan mas (Cyprinus carpio) termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum : badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (compresed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan, di bagian mulut dihiasi dua pasang sungut yang kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam (Susanto, 2007).
Taksonomi ikan mas yaitu :
Kingdom : Animalia
Filum       : Chordata
Kelas       : Osteichthyes
Ordo        : Cypriniformes
Famili      : Cyprinidae
Genus      : Cyprinus
Spesies     : Cyprinus carpio L
                  Tubuh ikan mas digolongkan tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000). Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Siri-srip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal merupakan anggota gerak yang bebas. Kulit dengan banyak kelenjar mukus biasanya dengan sisik derma yang tertanam beberapa dengan sisik yang dilindungi dengan insang, terdapat sirip median dan sisip berpasangan. Di tompang dengan jejaring sirip dari tulang rawan atau tulang keras, Mulut biasanya terminal dengan gigi, rahang berkembang dengan baik, terartikulasi ke tengkorak, mata besar tidak ada kelopak , kerangka terdiri atas tulang keras, tulang belakang banyak, terpisah. Ekor biasanya mohosercal, Respirasi biasanya menggunakan sepasang insang pada lengkung insang diruangan umum pada setiap sisi phyaring, dan suhu tubuh ikan mas bervariasi.

            Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan ikan pemakan organisme hewan kecil atau renik ataupun tumbuh-tumbuhan (omnivora). Kolam yang dibangun dari tanah banyak mengandung pakan alami, ikan ini mengaduk lumpur, memangsa larva insekta, cacing-cacing mollusca (Djarijah, 2001). Cahyono (2000) menyatakan jenis makanan tambahan yang biasa di berikan pada ikan mas adalah bungkil kelapa atau bungkil kacang, sisa rumah pemotongan hewan, sampah rumah tangga dan lain-lain. Sedangkan untuk makanan buatan biasanya diberikan berupa crumble dan pelet.
            Ikan mas (Cyprinus carpio) berasal dari daratan Asia yang telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Penyebarannya merata di daratan Asia juga Eropa sebagian Amerika Utara dan Australia. Pembudidayaan ikan mas di Indonesia banyak ditemui di Jawa dan Sumatera dalam bentuk empang, balong, maupun keramba terapung yang diletakkan di danau atau waduk besar. Budidaya modern di Jawa Barat menggunakan sistem air deras untuk mempercepat pertumbuhannya.
            Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotherm yaitu suhu tubuhnya dipengaruhi suhu lingkungan (air). Habitat aslinya yang di alam meliputi sungai berarus tenang sampai sedang dan di area dangkal danau. Perairan yang disukai tentunya yang banyak menyediakan pakan alaminya. Ceruk atau area kecil yang terdalam pada suatu dasar perairan adalah tempat yang sangat ideal untuknya. Bagian-bagian sungai yang terlindungi rindangnya pepohonan dan tepi sungai dimana terdapat runtuhan pohon yang tumbang dapat menjadi tempat favoritnya. Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150--600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30° C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%

Ikan mas menyukai suatu tempat tertentu bukan hanya karena tersedianya banyak pakan alami tetapi juga adanya tumbuhan air yang berguna sebagai tempat berlindung. Ikan mas dapat beradaptasi dengan baik sehingga mampu menyebar di perairan air tawar di seluruh pelosok Indonesia. Ikan mas (Cyprinus carpio) berkembangbiak dengan bertelur, masa kawinnya pada daerah tropis pada saat awal musim hujan. Ikan mas betina biasanya bertelur di dekat tumbuhan di dalam air di perairan dangkal yang tembus sinar matahari, telur-telur tersebut kemudian menempel pada dedaunan.

ALAT DAN BAHAN
Alat :
1.      Toples 5 buah
2.      Timer atau Stopwatch 1 buah
3.      Dispenser
Bahan :
1.      Ikan Mas (Cyprinus carpio) 5 ekor
2.      Air
3.      Es batu
4.      Garam
5.      Lumpur
6.      Lumut


PROSEDUR KERJA
Bahasan I
1.      Masukkan ikan ke dalam toples yang sudah berisi air biasa (suhu sedang/tanpa perlakuan). Amati tingkah laku. Hitung jumlah gerakan operkulum ikan selama 1 menit.
2.      Dipanaskan air dalam waterbath/panci hingga  50 . Kemudian dimasukkan ke dalam toples. Ukur suhu kontrol awal.
3.      Masukkan ikan ke dalam toples yang sudah berisi air hangat tadi. Amati tingkah laku. Hitung jumlah gerakan operkulum ikan selama 1 menit.
4.      Sediakan air dingin yang sudah dicampur es batu  -10  di dalam toples.
5.      Masukkan ikan ke daalam toples yang sudah berisi air dingin. Amati tingkah laku. Hitung jumlah gerakan operkulum ikan selama 1 menit.
6.      Catat hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan.

Bahasan II
1.      Siapkan 3 toples :
·         Toples 1 isi dengan air jernih, lumut dan 1 ekor ikan Cyprinus carpio.
·         Toples 2 isi dengan air yang dicampur garam, lumut dan 1 ekor ikan Cyprinus carpio.
·         Toples 3 isi dengan air yang dicampur lumut, lumpur dan 1 ekor ikan Cyprinus carpio.
2.      Lakukan pengamatan selama 30 menit, setiap 10 menit amati keadaan ikan dengan mengangkat ikan ke atas dan menghitung gerakan operkulum dalam 30 detik.
3.      Amati ketahanan ikan terhadap perbedaan konsentrasi air.
4.      Catatlah perbedaan kondisi ikan pada masing-masing toples ke dalam tabel pengamatan.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Bahasan I
PERLAKUAN
TINGKAH LAKU
WAKTU
JUMLAH GERAKAN OPERKULUM
Air biasa
Lasak
1 menit
66
Air hangat
Pertama kali dimasukkan ke dalam toples ikan lasak, lama kelamaan ikan menjadi tenang
1 menit
61
Air Es
Mengapung
1 menit
71

            Di dalam praktikum kali ini kami melakukan percobaan pada Ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu dengan memberikan tiga perlakuan yang berbeda pada 3 ekor ikan mas. Pada perlakuan pertama ikan mas dimasukkan ke dalam toples yang berisi air biasa, ikan mas bergerak dengan lasak di dalam toples dan operkulum bergerak sebanyak 66 kali dalam satu menit. Pada perlakuan yang pertama ikan mas tetap seperti biasa dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, karena sama dengan habitat biasanya. Pada perlakuan kedua ikan mas dimasukkan ke dalam toples yang berisi air hangat, ketika pertama kal dimasukkan ke dalam toples ikan bergerak dengan sangat lasak, tetapi lama kelamaan ikan menjadi tenang dan operkulum bergerak sebanyak 61 kali dalam 1 menit. Pada saat dimasukkan ke dalam toples ikan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi air yang hangat karena berbeda dengan habitatnya, tapi lama kelamaan ikan sudah dapat menyesuaikan diri bersamaan dengan kondisi air yang berangsur-angsur kembali ke dalam suhu normal. Pada perlakuan ketiga ikan dimasukkan ke dalam toples yang berisi air es, ikan tampak mengapung di permukaan air, dan operkulum bergerak sebanyak 71 kali dalam 1 menit. Posisi ikan yang mengapung di permukaan air membuat operkulum semakin cepat bergerak agar ikan tetap dapat bernafas untuk tetap hidup.



Bahasan II
TOPLES
KONDISI
TINGKAH LAKU
WAKTU
JUMLAH GERAKAN OPERKULUM
I
Lumut dan air jernih
Biasa saja dan tenang
10 menit pertama
34

Lumut dan air air jernih
Tenang
10 menit kedua
44

Lumpur dan air jernih
Tenang
10 menit ketiga
32
II
Garam dan lumut
Lebih lemas dibanding yang lainnya
10 menit pertama
13

Garam dan lumut
Lemas
10 menit kedua
20

Garam dan lumut
Gerakan ikan tidak stabil
10 menit ketiga
11
III
Lumpur dan lumut
Lemas , tapi di menit ke-8 mengambil oksigen ke permukaan
10 menit pertama
28

Lumpur dan lumut
Mengambil oksigen ke permukaan
10 menit kedua
19
Lumpur dan lumut
Lemas, berada di dasar toples
Menit ke 3, mengambil oksigen
Menit ke 7 kembali di dasar toples
Menit ke 8 naik lagi mengambil oksigen ke permukaan
10 menit ketiga
16

            Dalam bahasan kedua kami melakukan percobaan dan mengamati tingkah laku ikan mas dengan melakukan 3 perlakuan. Pada perlakuan yang pertama, memasukkan ian mas ke dalam toples yang berisi air jernih dan lumut. Pada 10 menit pertama ikan bertingkah biasa saja dan tetap tenang dan gerakan operculum sebanyak 34 kali, di 10 menit kedua ikan masih tetap tenang dengan 44 kali gerakan operculum. Dan pada 10 menit ketiga ikan mas juga tetap tenang dengan 32 kali gerakan operculum. Pada perlakuan ini ikan mas tetap tenang karena sesuai dengan kondisi lingkungan habitatnya, yaitu di air tawar yang terkadang juga dapat ditemukan lumut.
            Pada perlakuan kedua ikan mas dimasukkan ke dalam toples yang berisi air yang telah dicampur dengan garam dan ditambahkan dengan lumut. Pada 10 menit pertama ikan terlihat sangat lemas jika dibandingkan dengan ikan yang lain dan gerakan operculum nya sebanyak 13 kali. Pada 10 menit kedua ikan masih tetap lemas dengan gerakan operculum sebanyak 20 kali. Dan pada 10 menit ketiga gerakan ikan mulai tidak stabil dengan 11 kali gerakan operculum. Ikan terlihat sangat lemas karena tidak dapat beradaptasi dengan kondisi air yang asin, yang memang bukan merupkan habitatnya.
            Pada perlakuan ketiga ikan dimasukkan ke dalam toples berisi air yang dicampurkan dengan lumpur dan lumut. Pada 10 menit pertama ikan tampak lemas , tapi di menit ke-8 mengambil oksigen ke permukaan dengan 28 kali gerakan operculum. Pada 10 menit kedua ikan tampak mengambil oksigen lagi ke permukaan dan gerakan operculum 19 kali. Pada 10 menit ketiga ikan terlihat lemas dan berada di dasar toples, kemudian tampak mengambil oksigen ke permukaan, setelah itu kembali ke dasar toples. Dan operculum bergerak sebanyak 16 kali. Ikan naik ke permukaan untuk mengambil oksigen karena ikan sudah berada pada batas toleransi, dan berusaha mencari oksigen.



KESIMPULAN
            Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa suhu suatu lingkungan sangat mempengaruhi gerakan pada operkulum, yang dapat diartikan bahwa laju pernafasan ikan juga mempengaruhi laju metabolisme pada ikan. Ikan mas memang merupakan hewan yang bersifat poikilotermik, yaitu suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungannya. Tetapi ikan tidak bisa secara langsung menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Butuh waktu agar ikan dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi.
            Pada bahasan pertama ikan mas yang berada pada air jernih tetap bergerak tenang, sedabgkan pada toples yang berisi air hangat ikan mas bergerak dengan aktif ketika pertama kali dimasukkan namun lama kelamaan menjadi tenang karena sudah dapat menyesuaikan diri. Dan pada toples yang berisi air es ikan tampak mengapung di permukaan air dan gerakan operkulumnya sangat cepat karena ikan berusaha bernafas untuk tetap hidup.
            Pada bahasan kedua dapat disimpulkan bahwa ikan pada toples pertama yang berisi air jernih dan lumut terlihat lebih tenang dibandingkan ikan dengan perlakuan yang lain. Ikan pada toples kedua yang berisi air, garam dan lumut terlihat lemas dan gerakan nya tidak stabil dari waktu ke waktu hingga di menit terakhir. Dan pada ikan di toples ketiga yang berisi air, lumpur, dan lumut ikan terlihat sering ke permukaan untuk mengambil oksigen. Dan semakin lama gerakan operculum semakin berkurang pada tiap-tiap ikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Praktikum Ikan Mas. Online. Tersedia http://tyaranitiwi.blogspot.com/2012/11/zhv-ikan-mas-cyprinus-carpio.html. Diakses pada 13 Juni 2014
Anonim. Biologi dan Morfologi Ikan Mas. Online. Tersedia http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/02/biologi-dan-morfologi-ikan-mascyprinus.html. Diakses pada 14 Juni 2014
Khoirulumam. Laporan Praktikum Vertebrata Ikan Mas. Online. Tersedia http://khoirulumam92.blogspot.com/2013/05/laporan-praktikum-vertebrata-ikan-mas.html. Diakses pada 14 Juni 2014

LAMPIRAN



Gambar 1. Tiga buah toples dengan kondisi air yang berbeda



 Gambar 2. Mengamati tingkah laku ikan mas di air biasa


Gambar 3. Mengamati tingkah laku ikan mas di air es


Gambar 4. Mengamati tingkah laku ikan mas di air hangat


Gambar 5. Tiga buah toples dengan perlakuan berbeda


Gambar 6. Ikan mas mengapung pada toples berisi air dicampur garam dan lumut




Gambar 7. Mengamati tingkah laku ikan mas pada toples berisi air dicampur lumpur dan lumut

Gambar 8. Mengamati tingkah laku ikan mas pada toples berisi air jernih dan lumut